bersyukur dan bersabar

Oleh Agung Prihantoro

Nama Benjamin S. Bloom nyaris selalu disebut dalam setiap kuliah di Program Studi Penelitian dan Evaluasi Pendidikan (PEP) Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta. Seolah-olah, Bloom berseliweran di kampus saban hari untuk berdiskusi tentang pendidikan dengan para mahasiswa.

Namanya disebut bergandengan dengan taksonomi pendidikan—terutama—ranah kognitif. Taksonomi Bloom, begitulah para teoretikus dan praktisi pendidikan menamakannya.

Fakta ini membuktikan bahwa Taksonomi Bloom, sejak dipublikasikan kali pertama pada 1956 dalam The Taxonomy of Educational Objectives, The Classification of Educational Goals, Handbook I: Cognitive Domain—yang kerap disingkat Handbook I—tetap dijadikan rujukan sampai sekarang. Menjelang pembelanjaan anggaran pendidikan sebesar 20% pada 2009, kiranya relevan bila kita membincangkan salah sebuah buku terpenting dalam khazanah pendidikan ini.

Handbook I ini telah diterjemahkan ke dalam lebih dari 20 bahasa lain, dan dijadikan dasar untuk merancang tes dan membuat kurikulum, bukan hanya di Amerika Serikat, melainkan juga di seluruh dunia (Chung, 1994; Lewy dan Bathory, 1994; Postlethwaite, 1994 dalam Anderson dan Krathwohl, 2001). Handbook I juga dianggap sebagai kitab yang mendahului zamannya.

H. G. Shane (dalam Anderson dan Krathwohl, 2001) pernah melakukan survei perihal kitab-kitab yang paling memengaruhi kurikulum pendidikan selama 75 tahun pertama abad ke-20. Hasil surveinya menunjukkan bahwa Handbook I merupakan salah satu dari empat kitab yang menempati urutan ke-8 sampai 11.

Lantas, Museum Pendidikan Universitas South Carolina pernah pula membentuk tim pakar tingkat nasional untuk meneliti buku-buku pendidikan yang paling berpengaruh di jagat pendidikan Amerika selama abad ke-20. Para pakar itu menemukan bahwa Handbook I dan buku taksonomi pendidikan ranah afektif (Handbook II) termasuk di antara buku-buku tersebut.

Anehnya, meskipun menjadi acuan bagi banyak kalangan, Handbook I, kata Bloom, merupakan “salah sebuah buku pendidikan di Amerika yang amat sering dikutip tetapi jarang dibaca”.

Mengapa Taksonomi Bloom (Handbook I), juga Handbook II dan Handbook III (ranah psikomotorik), senantiasa menjadi rujukan? Sebab, ketiga buku ini mengklasifikasikan tujuan-tujuan pendidikan secara cukup komprehensif. Dengan perkataan lain, ketiganya secara lengkap menjelaskan ranah-ranah manusia, yang akan dikembangkan melalui pendidikan agar manusia-manusia kecil (anak-anak) jadi orang-orang dewasa yang utuh dan seimbang. Klasifikasi tujuan-tujuan pendidikan atau ranah-ranah manusia ini amat bermanfaat untuk kepentingan belajar, pengajaran, dan asesmen (penilaian).

Ranah-ranah manusia tersebut diklasifikasikan secara bertingkat, dari kemampuan yang paling sederhana sampai yang paling rumit. Ranah kognitif diklasifikasikan jadi pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis, dan evaluasi. Ranah afektif diperinci jadi penerimaan, tanggapan, keyakinan, pengorganisasian, dan pembentukan pola. Sementara itu, ranah psikomotorik diurai jadi persepsi, kesiapan, respons terbimbing, gerakan mekanis, respons kompleks, dan penyesuaian dan keaslian.

Selain Taksonomi Bloom, sebenarnya ada taksonomi pendidikan lain, yaitu Taksonomi Merril. M. D. Merril sendiri menamakan taksonomi buatannya itu sebagai Componen Display Theory (CDT). Merril (dalam Uno, Sofyan, dan Candiasa, 2001) mengembangkan taksonominya dengan menyempurnakan teori Robert Gagne. Taksonomi Merril membagi tujuan-tujuan pendidikan jadi dua kategori: isi dan kinerja (teori Gagne). Kategori isi berisikan fakta, konsep, prinsip, dan prosedur; sedangkan kategori kinerja terdiri dari mengingat, menggunakan, dan menemukan. Namun, Taksonomi Merril ini tak sekomprehensif Taksonomi Bloom sehingga jarang sekali digunakan.

Bloom sebetulnya tidak sendirian dalam menyusun Handbook I, tetapi bersama 34 ilmuwan pedagogi besar lain, seperti Cronbach, Ebel, Krathwohl, Furst, McGuire, Gage, dan Tyler. Akan tetapi, Bloom-lah yang menjadi editor buku itu, sebagaimana David. R. Krathwohl menjadi editor Handbook II, dan E. J. Simpson menjadi editor Handbook III.

Sekarang, Taksonomi Bloom telah direvisi oleh Anderson, Krathwohl, Airasian, Cruikshank, Mayer, Pintrich, Raths, dan Wittrock. Mereka memberi judul buku revisinya A Taxonomy for Learning, Teaching, and Assessing (2001). Sangat disayangkan bahwa Bloom tak terlibat dalam proyek revisi ini lantaran menderita Alzheimer dan meninggal dunia dua tahun (tepatnya 13 September 1999) sebelum edisi revisinya terbit. Sebagian besar penulis Handbook I juga tidak ikut memperbaiki magnum opus mereka itu karena sudah wafat; hanya Furst, McGuire, dan Gage yang dapat berpartisipasi dalam proyek revisi itu.

Revisi ini dimaksudkan untuk mengakomodasi perubahan-perubahan dalam pemikiran dan praktik pendidikan. Menurut Anderson et al., kemampuan tertinggi pada ranah kognitif bukanlah evaluasi, melainkan kreativitas; dan kemampuan sintesis ditiadakan. Alhasil, ranah kognitif selengkapnya adalah pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, evaluasi, dan kreativitas.

Terbayang di kepala bahwa pada 2009 mahasiswa-mahasiswa di Rawamangun, juga para teoretikus dan praktisi pendidikan di tempat-tempat lain bakal lebih sering bertemu Ben Bloom. Lalu, Bloom bertanya, “Sudahkah ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik siswa-siswa Indonesia dikembangkan secara optimal dan seimbang?”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: