bersyukur dan bersabar

Oleh Agung Prihantoro

Di sejumlah perguruan tinggi swasta dan negeri, mata kuliah Bahasa Inggris pada program studi S-1 non-Pendidikan Bahasa Inggris atau Sastra Inggris mendapat porsi 2 atau 4 SKS (satuan kredit semester). Pertanyaannya, dengan 2 SKS ini, mahasiswa bisa apa? Jika mahasiswa belajar bahasa Inggris hanya dalam perkuliahan 2 SKS tanpa modal kemampuan berbahasa Inggris awal yang baik, jawabannya jelas: mahasiswa tidak akan bisa berbahasa Inggris dengan fasih.

Masalah pembelajaran bahasa Inggris di perguruan tinggi ini perlu dibicarakan karena merupakan bagian dari masalah besar pembelajaran bahasa Inggris di Indonesia. Masalah besarnya adalah pembelajaran bahasa Inggris yang diselenggarakan sejak di sekolah dasar (SD) sampai perguruan tinggi tidak membuat siswa, mahasiswa atau lulusannya mampu berbahasa Inggris dengan baik. Masalah ini sudah terdeteksi sejak tahun 1990-an, tetapi penyelesaiannya sampai sekarang tidak efektif.

Kapan Bahasa Inggris Diajarkan

Sebenarnya, pembelajaran bahasa Inggris di perguruan tinggi—2 SKS atau berapa pun—mengundang pertanyaan mendasar. Apakah pembelajaran ini ditujukan untuk kepentingan mahasiswa selama kuliah ataukah kepentingan sarjana (lulusan) di dunia kerja? Pertanyaan ini berkaitan dengan kapan bahasa Inggris akan diajarkan.

Jika untuk kepentingan mahasiswa selama kuliah, kemampuan berbahasa Inggris seharusnya menjadi syarat bagi calon mahasiswa untuk menempuh kuliah. Sebab selama kuliah, mahasiswa berhadapan dengan literatur-literatur berbahasa Inggris, berkesempatan mengikuti program pertukaran mahasiswa dan kegiatan-kegiatan internasional yang mensyaratkan kemampuan berbahasa Inggris. Artinya, mahasiswa yang tidak dapat berbahasa Inggris tentu tidak akan mampu mengikuti program dan kegiatan itu dengan optimal.

Namun, pada kenyataannya, perkuliahan S-1, S-2 dan bahkan S-3 memakai banyak literatur berbahasa Indonesia. Alasannya bukan karena materi perkuliahan telah tercukupi dengan literatur-literatur berbahasa Indonesia, melainkan karena sebagian (besar) dosen tidak mampu membaca literatur berbahasa Inggris dengan baik. Sehingga, syarat kemampuan berbahasa Inggris bagi calon mahasiswa pun cenderung dianggap sebagai formalitas belaka.

Untuk kepentingan kuliah, bahasa Inggris semestinya diajarkan sebelum calon mahasiswa mengikuti kuliah, atau setidaknya pada semester-semester awal perkuliahan. Lain halnya, untuk kepentingan lulusan di jagat kerja, bahasa Inggris bisa diajarkan pada semester-semester akhir. Namun, bila ditujukan untuk dua kepentingan itu, pembelajaran bahasa Inggris sepatutnya dilaksanakan sejak semester awal sampai akhir.

Pada akhir pembelajaran bahasa Inggris, kemampuan mahasiswa dites, misalnya dengan TOEFL atau IELTS. Lantas, mahasiswa mendapat sertifikat yang berisikan skor tesnya. Skor kelulusan ditentukan oleh perguruan tinggi. Perlu diingat bahwa sertifikat tes bahasa Inggris ini mempunyai masa berlaku yang terbatas, lazimnya dua tahun, seperti yang ditetapkan oleh lembaga-lembaga penyelenggara program beasiswa. Psikolinguistik menjelaskan bahwa kemampuan berbahasa asing pada seseorang akan menurun bila bahasa tersebut tidak atau jarang digunakan. Karenanya, kemampuan bahasa Inggris mahasiswa sepatutnya dites setiap dua tahun.

Apa yang Diajarkan

Kemampuan dasar berbahasa Inggris mencakup membaca (reading), mendengar (listening), menulis (writing), dan berbicara (speaking). Keempat kemampuan dasar ini merupakan keterampilan (skill) dan berada pada ranah psikomotor. Maka, pengajaran bahasa Inggris seharusnya menekankan pada keterampilan reading, listening, writing dan speaking, bukan pada pengetahuan tentang bahasa Inggris.

Sampai sekarang, pembelajaran bahasa Inggris di SD hingga perguruan tinggi galibnya menekankan pada pengetahuan tentang bahasa Inggris. Evaluasinya terfokus pada pengetahuan, bukan keterampilan berbahasa. Titik tekan dan fokus ini menjadi salah satu penyebab kegagalan pembelajaran bahasa Inggris di Nusantara. Kritik terhadapnya sudah lama sekali mengemuka, tetapi lagi-lagi solusinya tidak efektif.

Bagaimana Bahasa Inggris Diajarkan

Jikalau pembelajaran 2 SKS bahasa Inggris tidak akan membuat mahasiswa fasih dalam reading, listening, writing dan speaking, bagaimana seharusnya bahasa Inggris diajarkan? Pertama, pembelajaran bahasa Inggris di SMP/MTs dan SMA/MA/SMK harus dibenahi supaya lulusan SMA/MA/SMK memiliki keterampilan berbahasa yang disyaratkan untuk mengikuti perkuliahan di perguruan tinggi atau untuk bekerja. Jadi, beban pembelajaran bahasa Inggris dibagi di antara jenjang pendidikan dasar, menengah dan tinggi.

Kedua, pembelajaran bahasa Inggris di perguruan tinggi diubah dalam hal bentuk, materi, metode, dan evaluasi. Bentuk pembelajaran tidak lagi kuliah, tetapi diubah jadi pelatihan atau kursus (training atau coaching) intensif. Pelatihan atau kursus intensif lebih tepat untuk mengajarkan materi keterampilan reading, listening, writing dan speaking. Metode mengajar dan metode belajarnya mesti merujuk pada teori-teori belajar dan model-model mengajar keterampilan motorik. Evaluasinya pun menyasar keterampilan reading, listening, writing dan speaking. Sebenarnya, perubahan ini bukan wacana yang teramat baru dalam kajian TESOL (Teaching English to Speakers of Other Languages), tetapi implementasi praktisnya belum dilakukan oleh banyak perguruan tinggi.

Implementasi praktis dari perubahan ini adalah menyerahkan pelatihan bahasa Inggris mahasiswa kepada lembaga pelatihan bahasa yang berkualitas. Perguruan tinggi bisa membentuk lembaga bahasa sendiri atau menjalin kerja sama dengan lembaga bahasa eksternal. Jadi, bahasa Inggris tidak lagi menjadi mata kuliah ber-SKS, tetapi menjadi kegiatan pelatihan tersendiri yang mendukung perkuliahan. Dengan demikian, diharapkan kemampuan berbahasa Inggris mahasiswa meningkat secara signifikan sebagai syarat untuk mengikuti perkuliahan dan seluruh kegiatan ikutannya serta untuk terjun ke dunia kerja.[]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: