bersyukur dan bersabar

Oleh Agung Prihantoro

Polemik seputar Ujian Nasional (UN) dan tes masuk perguruan tinggi negeri (PTN) meruyak kembali menjelang dan setelah pelaksanaan ritual ujian atau tes ini. Sebagian besar isu yang kini menjadi polemik tak beranjak jauh dari isu-isu yang diperdebatkan pada tahun-tahun terdahulu, yakni pro-kontra tentang UN, “tim sukses”, tes masuk PTN secara bersama atau mandiri, biaya tes yang tinggi, dan kebingungan siswa untuk mengikuti aneka tes masuk PTN.
Sebenarnya, polemik perihal isu-isu semacam itu sudah sejak lama berkembang di Amerika Serikat (AS), negara adikuasa yang kerap dipatok sebagai barometer kemajuan. Sejumlah isu tes yang mengemuka di AS serupa dengan isu-isu tes di Indonesia dan, makanya, relevan untuk dibicarakan.
Oleh karena itu, meski konteks pedagogis dan sosiokulturalnya berbeda, ada baiknya kita berkaca pada polemik tes di negeri Paman Obama itu dan mengambil pelajaran darinya.
Lewis Aiken dalam karyanya, Psychological Testing and Assessment (1997), memaparkan kritik terhadap tes-tes yang dipakai di AS dan tanggapan-tanggapan atas kritik tersebut. Polemik tes di AS yang relevan dengan isu-isu UN dan tes masuk PTN antara lain adalah biaya tes yang mahal, pro-kontra mengenai tes pilihan ganda (multiple-choice test), dan “tim sukses”. Satu isu lagi di AS (Robert Gregory, Psychological Testing, 2000) yang perlu kita perbincangkan ialah bias tes (test bias).

Biaya Tes yang Mahal
Sekolah-sekolah di AS dikritik karena menghabiskan terlalu banyak waktu untuk menyelenggarakan tes-tes yang hanya mengukur sedikit variabel yang berkaitan dengan prestasi akademis dan prestasi-prestasi lainnya. Scholastic Assessment Test (SAT), Graduate Record Examinations (GRE), Law School Admissions Test (LSAT), dan tes-tes masuk perguruan tinggi lainnya juga digugat lantaran tidak mengukur imajinasi, idealisme, determinasi, dan atribut-atribut manusia lain yang penting untuk membangun peradaban.
Kritik-kritik itu ditanggapi dengan pengakuan bahwa pembuatan, penyelenggaraan dan penskoran tes-tes tersebut memang menelan banyak biaya ekonomis dan waktu. Diakui pula perlunya mengonstruksi tes dan instrumen-instrumen lain yang lebih valid.
Para pembuat tes juga menegaskan bahwa tiada tes yang bisa menjadi prediktor absolut yang mampu memprediksi prestasi akademis atau kesuksesan hidup siswa. SAT, GRE, dan LSAT dimaksudkan tidak untuk mengukur kemampuan bawaan (innate ability), tetapi untuk mengukur kecakapan-kecakapan yang siswa pelajari di sekolah.
Polemik ini merupakan pelajaran bagi para pemilik kepentingan UN dan berbagai tes masuk PTN untuk mengambil langkah-langkah efisiensi guna meminimalisasi biaya ekonomis dan waktu, serta biaya fisik, psikologis dan sosial. Siswa, calon mahasiswa, dan orangtua membayar semua biaya itu, tetapi kepentingan mereka paling sering diabaikan. Maka, langkah-langkah efisiensi tadi mestinya lebih memperhatikan kepentingan-kepentingan mereka.
Selain itu, lantaran tes mempunyai pelbagai keterbatasan, semua pihak seharusnya mendudukkan tes dan hasilnya secara proporsional. Lulus UN dan tes masuk PTN bukanlah “tiket masuk surga”. Sebaliknya, siswa yang tidak lulus pun tak berarti gagal hidup. UN dan tes masuk PTN hanya mengukur hasil belajar dan potensi akademis siswa, bukan kesuksesan hidupnya.

Tes Pilihan Ganda
UN dan tes masuk PTN yang berisikan butir-butir pilihan ganda dikritik habis-habisan, sebab tes jenis ini tidak dapat mengukur seluruh kemampuan siswa dan justru mengekang kreativitas mereka. Demikian pula, kritik keras dari para ahli dan bukan ahli pendidikan di AS terarah pada tes-tes pilihan ganda di negara tersebut.
Panitia tes pilihan ganda di AS menyadari kelemahan pokok tes pilihan ganda ini, tetapi kemudian menambahkan bahwa tes pilihan ganda saja sudah menghabiskan banyak biaya, apalagi tes esai, tes lisan (non-pencil-and-paper test), dan tes perbuatan (performance test). Hatta, tanpa berniat membela pemerintah, para pengkritik UN mesti turut menghitung berapa biaya yang diperlukan untuk menghelat UN yang berupa tes-tes esai, lisan, dan perbuatan. Namun, memang perlu dipikirkan untuk merencanakan bentuk-bentuk tes dan instrumen-instrumen lain yang lebih sempurna dan valid.

“Tim Sukses”
“Tim sukses” yang menghalalkan segala cara (cheating on test) untuk mencapai tingkat kelulusan UN sebesar-besarnya ternyata juga dijumpai di AS. Menurut anlisis Aiken, fenomena ini merupakan efek negatif dari multifungsi tes dan situasi yang disebut someone is always on your back.
Tes di AS dipakai bukan hanya untuk mengevaluasi siswa, melainkan pula untuk mengevaluasi sekolah, dinas, dan bahkan kehidupan keluarga siswa. Ini membebani semua pihak yang terkait dengan tes. Maka, terjadilah situasi someone is always on your back: pemerintah pusat menekan kepala dinas pendidikan, yang pada gilirannya menekan kepala kanwil, yang selanjutnya menekan kepala sekolah, yang arkian menekan guru, yang akhirnya menekan siswa, untuk mencapai tingkat kelulusan sebesar-besarnya.
Analisis Aiken itu berlaku juga dalam konteks Indonesia. Hasil UN, seturut PP No. 19 Tahun 2005 pasal 68, mempunyai empat fungsi, yakni (1) pemetaan mutu program dan/atau satuan pendidikan, (2) dasar seleksi masuk jenjang pendidikan berikutnya, (3) penentuan kelulusan peserta didik, dan (4) pembinaan dan pemberian bantuan kepada satuan pendidikan. Dan, situasi someone is always on your back sama persis dengan iklim birokratis di negara ini. Efek negatifnya adalah pembentukan “tim sukses”.
Lebih dari itu, fenomena “tim sukses” ini menguatkan tuntutan untuk melaksanakan reformasi birokrasi secara serius di Departemen Pendidikan Nasional, dari tingkat pusat sampai sekolah.

Bias
Bias tes, tulis Gregory, merupakan konsep statistik mengenai validitas. Tes dikatakan bias bila validitasnya rendah. Bias bisa terjadi dalam validitas-validitas isi, prediktif, dan konstruk. Bias dalam validitas isi sering dipersoalkan di AS, sebab skor tes siswa-siswa kulit hitam umumnya lebih rendah daripada skor mereka yang berkulit putih. Ditengarai perbedaan skor tes dua kelompok ini dikarenakan terdapat bias dalam validitas isi tes. Bias ini juga menyiratkan ketidakmerataan kesempatan belajar (diskriminasi) pada siswa-siswa kulit hitam dan putih.
Di negara kita, bias UN dan tes masuk PTN terindikasi dalam penganuliran beberapa butir soal setelah penyelenggaraan tes tersebut. Bias dalam validitas isi menyiratkan ketidakmerataan kesempatan belajar pada siswa-siswa di daerah perkotaan dan daerah pelosok. Bias ini membersitkan pelajaran berharga bagi pemerintah untuk melakukan validasi tes yang lebih teliti dan meratakan kesempatan belajar kepada semua siswa di seluruh penjuru tanah air.
Kiranya, uraian perihal polemik tes di AS ini dapat menjadi sepotong cermin bagi para pemangku kepentingan UN dan tes masuk PTN untuk berintrospeksi dan kemudian menyelesaikan masalah-masalah UN dan tes masuk PTN secara cerdas dan arif.[]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: