bersyukur dan bersabar

BISNIS SEMINAR

Oleh Agung Prihantoro

Sebuah seminar perihal pendidikan diikuti oleh 2000 peserta! Seminar-seminar semacam ini sekarang merebak di banyak kota kabupaten dan provinsi. Pesertanya adalah guru-guru yang lapar seminar. Kondusifkah seminar dengan peserta sebanyak itu?
Kata “seminar” berasal dari bahasa Latin semin-, seminarium, yang berarti lahan untuk tumbuh dan berkembang. Bahasa Jerman menyerapnya jadi Seminar, yang bermakna pelajaran atau kuliah tingkat lanjut. Lantas, bahasa Inggris mengadopsinya dengan pengertian “forum yang membahas topik khusus”, “kuliah khusus”, dan “pertemuan antara para mahasiswa dan supervisor mereka”.
Seminar merupakan forum ilmiah untuk mendiskusikan suatu masalah secara objektif dengan tujuan menemukan solusinya. Seminar bukanlah pengajian akbar atau kampanye politik. Forum ilmiah ini membutuhkan suasana tenang dan kejernihan pikiran, bukan puji-pujian yang bersemangat atau yel-yel yang ingar-ingar sebagaimana dalam pengajian akbar atau kampanye politik dengan ribuah massa di lapangan terbuka.
Hatta, seminar dengan 2000 peserta niscaya tidak kondusif untuk menggelar dialog yang intensif. Seminar dicirikan dengan pemaparan pemikiran dan dialog antarnarasumber atau antara peserta dan narasumber. Minus dialog, forum itu menjadi sekadar ceramah umum yang disampaikan secara monolog oleh seorang narasumber. Seminar yang kondusif lazimnya dihadiri oleh 200-an peserta.
Akan tetapi, bagi panitia seminar (event organizer), 2000 peserta jelas jauh lebih menguntungkan secara ekonomis ketimbang 200 peserta. Dengan biaya pendaftaran sebesar Rp.100.000/peserta, panitia meraup pemasukan Rp.200.000.000. Ini mengisyaratkan bahwa seminar-seminar pendidikan sudah menjadi bisnis tersendiri yang menggerus makna dan tujuan seminar sejati.

Kelemahan Portofolio
Semua ini bermula dari kebijakan sertifikasi profesi guru yang menggunakan portofolio. Portofolio berupa self-study dan self-reporting, yang salah satu komponennya adalah sertifikat seminar. Pencantuman sertifikat seminar dalam portofolio dimaksudkan untuk mendorong para guru agar mereka mengikuti seminar-seminar pendidikan sehingga melek terhadap masalah-masalah pendidikan, pelbagai pemikiran dan solusi atas masalah-masalah tersebut.
Maksud tersebut tentu saja bagus, dan sebenarnya portofolio merupakan salah satu bentuk asesmen untuk mengetahui perkembangan guru secara relatif lengkap. Guru menunjukkan karya-karyanya dan melaporkan kegiatan-kegiatannya, yang menggambarkan kemajuan kariernya. Laporan ini menjadi bahan asesmen yang lebih komplet daripada, misalnya, hasil ujian (testing).
Akan tetapi, portofolio mengandung sebuah kelemahan yang mencolok. Self-study dan self-reporting cenderung bersifat subjektif karena dibuat oleh guru sendiri. Laiknya kelemahan kebijakan-kebijakan lain, kelemahan sertifikasi dengan portofolio ini dimanfaatkan oleh event organizer (EO), sebagian guru, dan barangkali juga narasumber yang tak mempunyai nurani.
Maka, di sini berlakulah hukum permintaan dan penawaran. Permintaan guru-guru akan (sertifikat) seminar naik, maka penawaran (sertifikat) seminar oleh EO naik, dan penawaran “pemikiran” narasumber naik pula. Guru-guru berduyun-duyun menghadiri seminar pendidikan apa pun dengan pembicara siapa pun dan biaya pendaftaran berapa pun. Bahkan, guru dapat membeli sertifikat tanpa harus mengikuti seminarnya.
Inilah bisnis seminar: guru sebagai pembeli, EO sebagai penjual, dan narasumber sebagai produsennya. Bisnis seminar mengakali ketentuan portofolio dan menodai kebijakan sertifikasi profesi guru. Untuk mengatasi persoalan ini, pemerintah telah menurunkan bobot angka kredit seminar. Namun, langkah tersebut tampaknya tak cukup berhasil dan tak mengguncangkan pasar bisnis seminar.

Sudikah Jadi Pelacur Intelektual?
Bisnis seminar bisa dimasukkan dalam kategori pelacuran intelektual. Seminar sebagai forum ilmiah yang mulia malah diperdagangkan, dilacurkan. Forum ilmiah direndahkan jadi barang dagangan yang tak punya nilai ilmiah. Bisnis seminar ini menggenapi pelacuran intelektual yang berkali-kali menghebohkan jagat ilmu dan pendidikan Indonesia, semisal jual-beli ijazah dan gelar, plagiat karya ilmiah, dan penghambaan para intelektual pada kekuasaan dan uang.
Jual-beli ijazah dan gelar dapat dijerat dengan hukum, dan pelaku-pelakunya dijebloskan ke penjara. Namun, plagiator karya ilmiah dan intelektual yang menghamba pada kekuasaan dan uang biasanya dikenai sanksi moral semata oleh masyarakat luas. Mereka dikeluarkan dari komunikasi intelektual dan dicap sebagai pelacur intelektual. Karier intelektual mereka pun umumnya tamat.
Para pelaku bisnis seminar sepatutnya juga dijatuhi sanksi moral seperti ini. Mereka dapat disebut sebagai pelacur intelektual yang mengotori dunia ilmu dan pendidikan. Karier mereka mungkin tidak tamat, tetapi mereka bakal tercatat sebagai sampah masyarakat ilmu dan pendidikan.
Sudikah para guru, EO, dan narasumber menjadi pelacur intelektual? Semestinya tidak.[]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: