bersyukur dan bersabar

PERIHAL TES DIAGNOSTIK

Oleh Agung Prihantoro

Departemen Pendidikan Nasional beberapa waktu yang lalu berencana mengadakan tes diagnostik (diagnostic test) di sekolah dasar (SD). Alasan pengadaan tes diagnostik itu adalah untuk mengidentifikasi kesulitan-kesulitan belajar yang dialami siswa.
Rencana ini menarik untuk ditanggapi secara kritis, karena rangkaian tes diagnostik tergolong rumit dibandingkan dengan jenis-jenis tes lainnya. Penyusunan dan penyelenggaraan tes diagnostik membutuhkan waktu yang relatif lama. Analisis skor hasil tesnya pun menuntut keahlian dan ketelitian tersendiri.
Mengidentifikasi kesulitan-kesulitan belajar dengan tes diagnostik sebenarnya merupakan langkah awal saja. Langkah berikutnya adalah melacak sebab-sebab kesulitan belajar siswa tersebut dan kemudian menentukan penanganan yang tepat kepada si siswa. Untaian panjang tes diagnostik ini tentu memerlukan anggaran dana yang cukup besar.

Fungsi Tes Diagnostik
Penilaian diagnostik (diagnostic assessment) atau—ada yang menyebut—evaluasi diagnostik (diagnostic evaluation) bermula dari sebuah persoalan dalam pembelajaran, yakni ketidaktercapaian target belajar. Maka, sasaran penilaian atau evaluasi diagnostik hanyalah siswa-siswa yang belum mencapai target belajar, belum menguasai pelajaran yang disampaikan oleh guru.
Penilaian diagnostik, menurut Nitko (2001: 293) mempunyai dua fungsi, yaitu mengetahui target-target belajar yang belum dicapai oleh siswa dan mengidentifikasi kemungkinan sebab-sebab mengapa siswa itu tidak mencapai target-target tersebut. Gronlund (1985: 12) menambahkan bahwa evaluasi diagnostik utamanya bertujuan untuk mengidentifikasi kesulitan-kesulitan belajar yang menetap atau berulang dan untuk merumuskan rencana pengajaran remedial.
Salah satu alat untuk melakukan penilaian atau evaluasi diagnostik adalah tes diagnostik. Namun, tambah Gronlund, tes diagnostik hanya dapat menunjukkan kesalahan-kesalahan khusus, bukan sebab-sebab kesalahan itu. Kalau tes formatif diibaratkan pertolongan pertama pada kecelakaan (PPPK), tes diagnostik seumpama pemeriksaan darah.
Sebab-sebab masalah belajar ini bisa berupa faktor-faktor intelektual (kecerdasan akademis), fisik, psikis, lingkungan (sekolah, keluarga, masyarakat), dan kultural. Sebab-sebab atau faktor-faktor ini mesti ditelusuri dengan observasi-observasi lebih lanjut.
Jelasnya, tes diagnostik saja tak cukup untuk melacak faktor-faktor penyebabnya. Tes diagnostik sekadar mengumpulkan sebagian data yang dibutuhkan untuk menentukan tindak penanganannya (Thorndike dan Hagen, 1977). Data-data lainnya diperoleh melalui observasi.
Tes-tes diagnostik standar yang paling banyak dipublikasikan ditujukan untuk mengulik kesulitan-kesulitan belajar membaca dan matematika. Contohnya ialah Stanford Diagnostic Reading Test, Stanford Diagnostic Mathematics Test, Diagnostic Reading Scales, Durrell Analysis of Reading Difficulty.

Rumit
Tes diagnostik tidak berkembang dengan baik, kata Nitko. Barangkali pasalnya, rangkaian tes diagnostik ini rumit.
Kerumitan pertama terletak pada penyusunannya. Jika sudah ada tes-tes diagnostik standar, guru tentu tak perlu bersusah payah menyusun tes diagnostik. Akan tetapi, entahlah apakah di Indonesia—tempat kesadaran akan pentingnya penilaian, pengukuran, dan evaluasi baru mulai tumbuh—sudah ada tes-tes semacam itu. Bila belum ada, gurulah yang paling berkepentingan untuk membuatnya, dan ini mensyaratkan keahlian dan pendidikan khusus.
Nitko menyarankan penilaian diagnostik digabungkan dalam aktivitas pembelajaran. Di sini, sekali lagi, guru sebagai pihak penilai dan fasilitator pembelajaran harus mempunyai keahlian khusus untuk menyusun instrumen tes diagnostik (dimensi, indikator-indikator, sub-subtes, dan butir-butir tes) yang valid dan realibel—mampu mendeteksi kesulitan-kesulitan belajar yang spesifik.
Kedua, pelaksanaan tes diagnostik dan observasi bisa berlangsung lama dan tidak hanya sekali. Andai pelaksana tes dan observasi adalah guru, tugas guru yang sudah banyak niscaya bertambah banyak lagi.
Ketiga, analisis skor tes diagnostik menuntut ketelitian yang lebih tinggi daripada analisis skor jenis-jenis tes lainnya.
Keempat, lantaran skor tes diagnostik dan analisisnya barulah informasi awal untuk menelisik sebab-sebab kesulitan belajar, perlu dilakukan observasi terhadap faktor-faktor intelektual atau kecerdasan akademis, fisik, psikis, lingkungan (sekolah, rumah, masyarakat), dan kultural. Observasi ini lagi-lagi memerlukan waktu yang tidak sebentar.
Kelima, kalau tingkat kesulitan belajar siswa ringan saja, guru bisa lekas mendeteksi sebab-sebabnya dan merancang pengajaran remedial. Namun, jika tingkat kesulitan belajarnya akut, penanganannya harus melibatkan ahli-ahli psikologi, medis, dan pengajaran remedial.
Oleh karena tes diagnostik ini rumit, menuntut keahlian, dan membutuhkan banyak waktu dan dana, rencana Depdiknas di atas patut dipantau. Apakah rencana itu akan lagi-lagi menjadi proyek bancakan? Apakah pengalokasian banyak waktu, tenaga, dan dananya setimpal dengan hasil yang diharapkan?[]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: