bersyukur dan bersabar

Oleh Agung Prihantoro

“Pengetahuan adalah kekuasaan,” tandas Francis Bacon (1561-1626), salah seorang filosof Inggris pelopor pemikiran ilmiah modern. Sebagai bagian dari pengetahuan, sains (science) dalam arti sempit, yakni ilmu-ilmu alam (fisika, kimia, astronomi, meteorologi, geologi, mineralogi, biologi, zoologi, dan fisiologi), dan teknologi sebagai turunannya tentu merupakan kekuasaan pula. Sains dan teknologi menjadi sesuatu yang amat penting bagi umat manusia.
Tanpa sains dan teknologi, manusia berada dalam kegelapan takhayul dan tiada berdaya menghadapi bencana alam dan bermacam-macam penyakit. Andai astronomi belum berkembang, orang mungkin masih menganggap gerhana matahari terjadi karena sang surya dimakan buto. Ahli-ahli geologi memetakan daerah rawan dan jalur gempa, dan para arsitek merancang rumah tahan gempa, untuk meminimalisasi akibat buruk dari gempa bumi. Dengan bantuan komputer, ilmuwan berhasil memetakan genom manusia sehingga dapat merekayasa sel untuk menyembuhkan pelbagai jenis penyakit.
Kini, kemajuan sains dan teknologi menjadi barometer kemajuan sebuah bangsa. Syahdan, seluruh bangsa berlomba-lomba untuk mengembangkan sains dan teknologi. Pengembangan, penguasaan, dan penerapan sains dan teknologi yang beretika sangat ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia (SDM). Cara efektif untuk meningkatkan kualitas SDM adalah membenahi pendidikan sains dan teknologi dengan sungguh-sungguh.
Salah satu persoalan pokok dalam pendidikan sains dan teknologi adalah minat siswa yang rendah untuk belajar sains dan teknologi dan proses pembelajarannya yang kurang menarik. Di sinilah letak signifikansi science center untuk menumbuhkan minat siswa dan menjadikan pembelajaran sains dan teknologi lebih memikat.

Science Center
Science center atau science learning center dialihbahasakan jadi pusat peragaan ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi sebenarnya lebih tepat diterjemahkan jadi pusat pembelajaran sains. PPS dapat dibedakan jadi dua, yaitu yang sederhana dan yang khusus. PPS sederhana berupa ruang kelas atau tempat lain di sekolah yang dimodifikasi dan dilengkapi dengan perlengkapan sains dan teknologi untuk belajar sains dan teknologi (Ralph Voight, 1973).
PPS sederhana ini serupa dengan learning center lainnya, seperti game and toy center, listening center, composing center, library center, art center, market center, mathematics center, dan music center. PPS menjadi tempat belajar yang lebih menarik, aktif, dan menyenangkan bagi siswa-siswi dibandingkan dengan ruang kelas biasa. PPS, imbuh Voight, dibuat berdasarkan ide (1) pembelajaran sesuai dengan tingkat pertumbuhan dan perkembangan siswa, dan (2) setiap siswa berbeda dan memiliki karakteristik tersendiri yang unik.
Sementara itu, PPS khusus ialah tempat yang sengaja dibangun untuk belajar sains dan teknologi bagi anak-anak dan siswa-siswi sekolah secara informal di luar sekolah dengan sarana, prasarana, perabot, media pendidikan, sumber belajar, dan tempat bermain. PPS khusus meliputi museum sains, semua bagian dari lingkungan tempat belajar sains, dan tempat-tempat yang sangaja dinamakan PPS. Di Ambarawa, ada Museum Kereta Api; di Yogyakarta, terdapat Museum Dirgantara, Museum Biologi, dan Taman Pintar; di Jakarta, ada Planetarium dan PPIPTEK TMII. Taman Pintar Yogyakarta, PPIPTEK TMII, dan PPS lainnya perlu diapresiasi secara khusus lantaran didesain dan dikelola untuk menawarkan layanan pendidikan informal sains dan teknologi yang lebih tertata.

Pendidikan Informal Sains dan Teknologi
PPS merupakan fasilitas belajar yang memberikan pengalaman yang amat personal tentang sains dan teknologi, imbuh Voight. Secara psikologis, rasa ingin tahu, motivasi, imajinasi, kesenangan, dan ketakjuban (ranah afektif) yang bersifat amat personal pada sains dan teknologi ketika berkunjung ke PPS ini akan bertahan lebih lama daripada hasil-hasil belajar kognitif di dalam kelas.
Kunjungan ke PPS merupakan salah satu metode pengajaran sains dan teknologi, yakni metode karya wisata (field trip). Keuntungan metode ini ialah (1) siswa bisa belajar dengan perasaan senang sebab mereka terlepas dari suasana formal sekolah dan (2) di PPS, siswa dapat memverifikasi pengetahuan yang mereka peroleh di sekolah dengan melihat, menyentuh, mengalami, mempraktikkan, dan mencipta peragaan-peragaan sains dan teknologi (Paul Suparno, 2007).
Lingkungan PPS memang tidak kondusif untuk belajar konsep, tetapi menebarkan stimulus kepada siswa untuk belajar konsep sains dan teknologi di sekolah, yang lebih familier dan produktif tetapi kurang memberi stimulus. Maka, masalahnya kemudian adalah bagaimana memadukan pengalaman empiris di PPS dengan kurikulum dan pembelajaran sains dan teknologi di sekolah untuk memaksimalkan potensi belajar siswa.
PPS juga merupakan tempat bermain, terutama bagi anak-anak, dan permainan sangat esensial dalam pendidikan anak (Rebecca Isbell, 1995). Sewaktu bermain, mereka mengembangkan keterampilan-keterampilan pemecahan masalah dengan mencoba pelbagai tindakan, lantas memilih tindakan yang paling tepat. Mereka pun menambah kosakata tentang sains karena saling berkomunikasi. Dengan perkataan lain, permainan mengembangkan seluruh potensi anak, yaitu intelektual, sosial/emosional, dan fisikal.
Ringkasnya, PPS menawarkan pendidikan informal dan publik yang signifikan tentang sains dan teknologi. Di PPS, siswa bersama siswa-siswi lain dan guru mereka atau anggota keluarga mereka dapat belajar sains secara informal dan menyenangkan. Semua ini menjadi bekal dasar bagi siswa-siswi untuk selanjutnya menekuni sains dan teknologi secara lebih serius.[]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: