bersyukur dan bersabar

Resensi Buku

Oleh Agung Prihantoro
Judul              : Kasus Ajaib Bahasa Indonesia? Pemodernan Kosakata dan Politik Peristilahan
Penulis           : Jérôme Samuel
Penerjemah   : Dhany Saraswati Wardhany
Penyunting    : Emma Sitohang-Nababan
Penerbit         : Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta
Cetakan          : I, Oktober 2008
Tebal               : 534 halaman

Bagi Joshua Fishman, aneh kalau orang Indonesia merasa rendah diri karena bahasa nasionalnya miskin dan “belang-bonteng dengan kata-kata semua bangsa di seluruh dunia”. Pasalnya, Fishman, seorang peneliti bahasa Indonesia, malah memandang perkembangan bahasa Indonesia yang pesat sebagai sebuah keajaiban.
Hanya dalam tempo empat puluh tahun, bahasa Melayu yang kampungan dan melarat telah berkembang jadi bahasa modern. Pada 1928, bahasa Melayu modern ini ditahbiskan sebagai bahasa Indonesia, bahasa nasional dengan pelbagai fungsinya bagi sebuah bangsa yang besar dan majemuk. Seketika itu juga, bahasa Indonesia modern ini mempunyai 37.795 istilah baru (h. 22). Sungguh ajaib!
Akan tetapi, Jérôme Samuel tidak serta-merta mengamini pandangan Fishman tadi, meskipun mengakui bahwa dirinya tertarik dengan fenomena bahasa Indonesia tersebut. Apalagi, beberapa peneliti bahasa di Eropa menyebut-nyebut bahasa Indonesia sebagai contoh kasus tentang apa yang dinamakan modernisasi bahasa yang berhasil secara gilang-gemilang. Lantas, Samuel mulai meneliti riwayat bahasa Indonesia selama kurun 1942-1995.
Samuel mendefinisikan modernisasi bahasa, dengan menukil pendapat Charles Ferguson, sebagai baku terjemah dengan bahasa-bahasa lain dalam bidang-bidang dan bentuk-bentuk wacana khas ‘masyarakat modern’ yang bersifat industrialis, sekuler, dan multistruktur. Modernisasi juga berarti mengendalikan, memaksakan, mengatur, dan merencanakan pembakuan bahasa Indonesia oleh pemerintah pusat melalui lembaga bahasa (h. 27).
Kelak, terlebih pada pemerintahan Order Baru, modernisasi yang otoriter ditentang oleh para munsyi. Menurut mereka, modernisasi otoriter ini tak lebih dari politisasi bahasa untuk melanggengkan kekuasaan, bukan menumbuhkembangkan dan menata bahasa Indonesia sehingga menjadi bahasa yang mencerdaskan dan mapan sebagaimana bahasa-bahasa internasional. Modernisasi otoriter ini menelan korban, yakni para penulis dan sastrawan dicekal untuk membuahkan karya-karya tulis dan lisan yang kritis.
Samuel memeriodisasi modernisasi bahasa Indonesia jadi tiga tahap utama. Tahap I merupakan Pembangunan Peristilahan Indonesia yang berlangsung pada 1942-1966. Tahap II disebut Perencanaan Istilah sepanjang 1967-1995. Tahap III adalah Pengujian Peristilahan Resmi pada 1975-1995. Tahap II dan III bergulir pada masa yang hampir bersamaan, lantaran kala itu terjadi dua aktivitas pokok menyangkut bahasa Indonesia yang dilakukan oleh pemerintah, yakni perencanaan dan pengujian istilah “resmi”.
Sebenarnya, modernisasi bahasa Indonesia sudah dimulai semenjak sangat lama, yaitu pada abad ke-7. Permulaan modernisasi ini ditandai dengan pembuatan prasasti berbahasa Melayu Kuno. Temuan-temuan prasasti ini membuktikan bahwa penguasa atau orang-orang yang melek huruf pada zaman itu telah memberi perlakuan tertentu pada bahasa Melayu.
Selanjutnya, seperti Fishman, Samuel mencatat tahun 1920-an sebagai tonggak sejarah bahasa Indonesia. Namun, Fishman menilai tonggak sejarah itu sebagai tonggak ajaib bahasa Indonesia dengan mengacu pada tulisan-tulisan Sutan Takdir Alisjahbana (STA) yang menonjolkan pencapaian luar biasa bahasa Indonesia jadi bahasa nasional. Lain halnya, Samuel berpendapat bahwa keajaiban itu hanyalah transfigurasi kaum nasionalis Indonesia yang pada kurun 1920-an meraih kesadaran keindonesiaan dan salah satu unsur penting kesadaran tersebut ialah bahasa Indonesia (h. 473).
Pencapaian bahasa Indonesia ini, lanjut Samuel, secara keseluruhan memang menakjubkan, tetapi modernisasi detail-detailnya tidak merata. Modernisasi kosakatanya berupa penyerapan kata-kata asing secara berlebihan dan kurang tertata. Bahkan pada gilirannya, masyarakat dengan perasaan bangga sengaja menjejalkan banyak sekali kata asing, terutama dari bahasa Inggris, ke dalam pemakaian bahasa Indonesia sehari-hari.
Politik peristilahan pun tak kurang karut-marutnya. Rezim Orde Baru, sekali lagi, mempolitisasi istilah-istilah sekadar untuk melanggengkan kekuasaannya. Arkian. pemerintahan-pemerintahan berikutnya tak kunjung serius untuk mewadahi dan menyistematisasikan pemikiran-pemikiran masyarakat dan mengatur penggunaan istilah-istilah. Alhasil, istilah-istilah berkembang secara liar sehingga masyarakat bingung untuk berbahasa dengan benar dan tepat.
Dengan argumen-argumen di atas, Samuel menampik pandangan Fishman bahwa modernisasi bahasa Indonesia adalah sebuah keajaiban. Meski demikian, Samuel sepakat bahwa kasus modernisasi semacam itu jarang ditemui.
Usai menolak keajaiban Fishman, Samuel tanpa sadar memperlihatkan “keajaiban” lain dari bahasa Indonesia. Keajaiban itu adalah penyerapan kosakata asing secara amat deras ke dalam bahasa Indonesia, skalanya yang luas, dan keterkaitannya dengan perubahan kebudayaan Nusantara (h. 473). Modernisasi bahasa Indonesia disamakan dengan westernisasi bahasa dan juga kebudayaan Indonesia. Ide penyamaan modernisasi dengan westernisasi ini berasal dari STA, yang sempat memicu polemik kebudayaan. Maka, dapatlah dikatakan secara agak berlebihan bahwa dua keajaiban yang berbeda dari bahasa Indonesia itu berkecambah dari pemikiran-pemikiran STA.
Satu catatan lagi, buku tebal yang aslinya berbahasa Prancis dan bersumber dari disertasi penulisnya ini diterjemahkan dan disunting dengan cukup baik. Beberapa ketidakakuratan penerjemahannya tidak terlalu memengaruhi signifikansi buku ini sebagai sebuah referensi teranyar perihal modernisasi bahasa Indonesia.[]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: