bersyukur dan bersabar

Resensi Buku

Oleh Agung Prihantoro
Judul                : The Elephant and the Dragon: Fenomena Kebangkitan India dan Cina yang Luar Biasa serta Pengaruhnya terhadap Kita
Penulis             : Robyn Meredith
Penerjemah    : Haris Priyatna dan Asep Nugraha
Penerbit           : Quacana, Bandung
Cetakan           : I, Juni 2008
Tebal                : xx + 240 halaman

Inilah dua kisah tentang naga dan gajah ajaib. Naga adalah Cina yang secara menakjubkan berubah dari negara komunis-sosialis miskin jadi kapitalis yang beranjak kaya. Gajah ialah India yang secara mengagumkan bangkit dari sosialisme dan nasionalisme ekonomi jadi kapitalis yang menapak kaya pula.
Sudah banyak tulisan yang membahas keberhasilan ekonomi Cina dan India. Buku ini mengetengahkan tema yang sama, tetapi dengan cara yang berbeda. Robyn Meredith, penulisnya yang merupakan editor senior majalah Forbes, menyusun buku ini dengan merangkai banyak success stories para pejabat, pengusaha, mahasiswa, dan orang-orang awam, serta perusahaan-perusahaan Cina dan India yang menuai kesuksesan dengan kerja keras. Kisah-kisah yang mengalir lancar ini dilengkapi dengan data-data yang komplet, sebagaimana lazimnya laporan apik dari seorang wartawan.
Kisah naga ajaib berawal pada 1978 dengan Deng Xiaoping sebagai tokoh utamanya. Jauh berbeda dengan pendahulunya, Mao Zedong yang komunis-sosialis tulen, Deng tampil sebagai pembaru. Deng memperbarui kebijakan pertanian yang kemudian memodernisasi dan membawa Cina jadi kekuatan besar dan baru dunia.
Modernisasi Cina diretas tidak dengan mendirikan pabrik-pabrik dan gedung-gedung pencakar langit yang baru saja memukau para peserta Olimpiade Beijing, melainkan dengan mengubah sistem pertaniannya (h. 10).
Perubahan sistem pertanian Cina ini dimulai dari desa pertanian kolektif Xiaogang, sebuah daerah yang paling melarat di Fengyang di Provinsi Anhui. Pada musim dingin 1978, delapan belas keluarga di Desa Xiaogang berembuk secara sembunyi-sembunyi untuk menentang sistem pertanian komunis. Mereka membagi-bagi tanah pertanian kolektif untuk setiap keluarga, yang selanjutnya mengerjakan masing-masing bagiannya. Langkah mereka ini membuahkan prestasi yang bagus: hasil panen mereka meningkat empat kali lipat, dari 18 ton jadi 72 ton. Syahdan, Xiaogang kini dikenal sebagai tempat kelahiran reformasi pertanian (h. 9-10).
Lebih dari empat ratus pejabat dan pengurus partai saban tahun dikirim oleh Deng ke Singapura untuk melihat kemajuan Negeri Singa itu dan membayangkan bagaimana mereka harus membangun Cina kelak. Deng melakukan hal itu setelah terlebih dahulu pada November 1978 berkunjung ke sana selama tiga hari dan berguru pada Lee Kuan Yew.
Setelah semua keberhasilan ini, Tony Ma, seorang eksekutif hebat yang bekerja di perusahaan Amerika di Cina, bisa mengenang perjalanan hidupnya yang panjang. Semasa kecil, Tony melihat Tentara Merah Mao mendatangi dan memukuli seorang wanita tua yang almarhum suaminya pernah mengkritik pemerintah komunis. Pada usia enam belas tahun, Tony terpaksa berhenti sekolah dan bekerja di pabrik baja dekat Beijing dengan upah tak layak, 2 dolar/bulan.
Akan tetapi, pada 1977, dia berkesempatan kuliah sesudah universitas-universitas yang ditutup semasa rezim Mao tiba-tiba dibuka kembali. Iklim politik dan ekonomi yang membaik membuat Tony memperoleh beasiswa untuk mengambil program doktoral biokimia dan pascadoktoral di Amerika Serikat. Lantas, dia bekerja di perusahaan Johnson & Johnson, New Jersey, dan sekarang di perusahaan B. F. Goodrich. Kantornya di Hong Kong dan Cina, sehingga dia pergi-pulang ke dan dari kedua tempat itu. Istrinya menemani putra-putri mereka yang kuliah di Yale dan di Duke (h. 31-32).
Banyak sekali perusahaan, pabrik, gedung tinggi, jalan raya, mobil mewah, bulevar, dan segala ciri kemajuan telah bertebaran di Cina. Semua ini terlihat dengan jelas oleh Perdana Menteri India Atal Bihari Vajpayee dari pesawat yang ditumpanginya ketika dia terbang ke Cina pada Juni 2003. Dan, ini merupakan kunjungan bersejarah, sebab selama sepuluh tahun terakhir tiada petinggi Negeri Gajah yang bertandang ke sini.
Vajpayee seolah hendak menautkan keberhasilan kedua negara ini, meskipun India lebih lambat dalam memperbarui perekonomiannya. Reformasi ekonomi India dimulai pada 1 Juli 1991 oleh Manmohan Singh, yang diangkat sebagai menteri keuangan oleh Perdana Menteri P.V. Marasimha Rao. Singh mendevaluasi mata uang India lebih dari 9% untuk mendorong ekspor yang diharapkan dapat menggelontorkan dolar ke dalam negeri. Sejak saat itu, India turut berpacu dalam kancah kapitalisme.
Arkian, setelah sistem ekonomi sosialis-nasionalis India diganti dengan sistem kapitalis dan, konsekuensinya, terjadi deregulasi atas license raj secara besar-besaran, perusahaan-perusahaan India dan asing berkembang dengan pesat.
Perkembangan ini tecermin dalam kisah Narayana Murthy, sang Bill Gates India. Narayana dibesarkan di Mysore dan sebenarnya pada 1962 diterima di Indian Institute of Technology yang prestisius. Namun, dia tak jadi kuliah di sana lantaran biayanya teramat mahal baginya, sehingga dia memilih masuk di perguruan tinggi lokal. Pada 1981, bersama teman-temannya, Narayana mendirikan perusahaan peranti lunak Infosys Consultants, yang pertumbuhannya terhambat oleh aneka license raj sebelum 1991. Selepas Singh menyingkirkan hambatan-hambatan itu, Infosys Consultants menjadi perusahaan besar yang menghidupkan roda perekonomian nasional.
Ada banyak kisah serupa yang lebih dramatis dan “sempurna” yang dirajut oleh Meredith—dan juga diterjemahkan—sekali lagi, secara amat apik dalam The Elephant and the Dragon ini dari perspektif neoliberalisme. Saking sempurna kisah-kisah ini, pembaca digiring berkesimpulan bahwa kapitalisme dengan pasar bebasnya menjadi satu-satunya cara untuk memajukan dan memakmurkan negara-negara yang masih terbelakang.
Jikalau kemajuan ekonomi Cina dan India dibaca oleh ekonom-ekonom antineoliberalisme, tentu akan lahir kisah-kisah naga dan gajah ajaib yang berbeda. Bila Meredith menyuguhkan naga dan gajah kapitalis, para ekonom antineoliberalisme mungkin bakal menuturkan bahwa naga dan gajah itu bisa secara tak kalah ajaib menyiasati dan mengambil keuntungan dari kapitalisme global.[]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: