bersyukur dan bersabar

Resensi Buku

Oleh: Agung Prihantoro
Judul buku           : Ideologi-ideologi Pendidikan
Penulis                  : William F. O’neil
Penerjemah          : Omi Intan Naomi
Kata Pengantar    : Mansour Fakih
Penerbit                : Pustaka Pelajar Yogyakarta, April 2001
Tebal                     : xlv + 724 halaman

Satu pertanyaan penting dalam bidang pendidikan yang patut kita jawab bersama, khususnya para pembuat kebijakan, adalah apakah sebenarnya ideologi pendidikan kita? Ada enam kemungkinan jawaban menurut William F. O’neil dalam bukunya yang dalam edisi bahasa Inggris berjudul Educational Ideologies: Contemporary Expressions of Educational Philosophies ini, yakni fundamentalisme, intelektualisme, konservatisme, liberalisme, liberasionisme dan anarkisme (hal. 99).
Enam ideologi pendidikan dasar ini dikelompokkan menjadi dua. Tiga yang pertama termasuk ke dalam kategori ideologi konservatif, sedangkan tiga yang terakhir termasuk ke dalam ideologi liberal. Pengelompokan ini dibuat atas dasar keterkaitan antara pendidikan dan masyarakat; apakah pendidikan dipandang sebagai cara untuk mempertahankan kehidupan masyarakat yang sudah ada (konservatif) atau untuk mengubahnya (liberal). Sementara itu, Mansour Fakih menambahkan ideologi kritis yang secara tegas menyatakan bahwa tugas utama pendidikan adalah menciptakan sikap kritis masyarakat terhadap sistem dan struktur yang tidak adil agar bisa melakukan dekonstruksi dan advokasi menuju sistem politik, ekonomi dan sosial yang lebih adil (hal. xvi). Pada praktiknya memang kedua cara pandang tersebut sulit untuk dipilah-pilah secara hitam-putih. Akan tetapi, kita selalu bisa melihat mainstream pendidikan yang mengalir di tengah-tengah suatu masyarakat.
Dalam buku ini O’neil melampirkan tes ideologi pendidikan sebagai alat diagnosis untuk menakar mainstream tersebut (hal. 555). Tes ini terdiri dari 104 buah pertanyaan dengan pilihan jawaban Sangat Setuju (SS) sampai Sangat Tidak Setuju (STS). Pertanyaan pertama, misalnya, “Guru harus lebih peduli pada pemberian motivasi dengan memberikan rangsangan agar siswa tertarik untuk belajar ketimbang menyampaikan pengetahuan.” Pertanyaan-pertanyaan dalam tes ini berada dalam kerangka ciri masing-masing dari fundamentalisme, intelektualisme, konservatisme, liberalisme, liberasionisme dan anarkisme pendidikan.
Keenam ideologi pendidikan tersebut menjadi pokok pembicaraan O’neil dalam buku yang cukup tebal ini. Pada Bagian I (Bab 1-3) dia menguraikan hubungan antara filsafat dan filsafat (ideologi) pendidikan. Aksiologi sebagai cabang filsafat yang mengkaji tentang nilai mencakup teori moral (Apakah perilaku antarmanusia yang baik itu?[ Skema 2-3]). Teori moral ini tertanam di dalam filsafat politik yang sebagian terungkap dalam filsafat pendidikan. Jelaslah bahwa sebenarnya keterkaitan antara filsafat politik dan filsafat pendidikan sangat dekat. Bahkan O’neil mengatakan bahwa dari enam sistem etika sosial dasar (konservatisme reaksioner, konservatisme filosofis, konservatisme sosial, liberalisme politik, liberasionisme politik, dan anarkisme politik), yang ditarik melalui filsafat politik, muncullah enam ideologi pendidikan.
Dengan kata lain, ideologi pendidikan itu lahir dari etika sosial dan filsafat politik yang dianut oleh suatu masyarakat. Namun, sebenarnya tidak cukup dikatakan demikian, karena proses pendidikan yang bermuatan ideologis tertentu pada gilirannya akan melahirkan individu-individu dan masyarakat yang menciptakan etika sosial dan filsafat politik berikutnya. Jadi, sistem pendidikan merupakan anak sekaligus induk dari sistem sosial dan politik. Lantas apakah sistem pendidikan konservatif bisa melahirkan sistem politik liberal, dan sebaliknya? Kita tidak perlu gegabah untuk menjawab pertanyaan ini, karena perlu diingat adalah bahwa selain faktor pendidikan, politik, sosial juga terdapat faktor ekonomi, budaya dan hukum, dan bahwa kompleksitas kehidupan ini tidak cukup direduksi menjadi sebuah pertanyaan seperti itu.
Pada Bagian II dan III (Bab 4-10), O’neil menjelaskan masing-masing dari keenam ideologi pendidikan tersebut di atas yang kemudian diperbandingkan pada Bagian IV (Bab 11). Secara garis besar keenam ideologi tersebut bisa dipaparkan sebagai berikut. Pertama, ideologi fundamentalisme melihat pendidikan bertujuan untuk membangkitkan dan meneguhkan kembali cara-cara lama yang lebih baik dibandingkan dengan cara-cara yang sekarang ada. Oleh karenanya, sekolah ditujukan untuk membangun kembali masyarakat dengan mendorongnya agar kembali ke tujuan-tujuan semula; dan untuk menyalurkan informasi dan keterampilan yang diperlukan guna mencapai keberhasilan dalam tatanan sosial yang ada. Ciri utama ideologi ini adalah bahwa pendidikan dipandang sebagai agen dan proses pewarisan moral, sedangkan anak dianggap cenderung berbuat salah jika tidak diarahkan dan diberi pengajaran yang tegas serta tepat. Makanya pelajarannya menitikberatkan pada pelatihan moral dan keterampilan akademis serta praktis agar anak menjadi anggota yang efektif dari masyarakatnya. Metode pengajarannya ialah ceramah, hafalan dan disiplin yang tinggi.
Kedua, intelektualisme pendidikan bertujuan mengenali, melestarikan dan meneruskan kebenaran. Kebenaran adalah nilai instrinsik yang terkandung di dalam pengetahuan sebagai tujuan-dalam-dirinya-sendiri (end-in-itself). Manusia merupakan kodrat yang bersifat universal dan melampaui keadaan-keadaan tertentu. Sementara masyarakatnya menekankan stabilitas filosofis di atas kebutuhan akan perubahan (absolutisme filosofis), sekolah bertugas mengajar siswa bagaimana cara menalar dan meneruskan kebijaksanaan-kebijaksanaan masa silam. Kesamaan-kesamaan individu lebih penting daripada perbedaannya; individu cenderung mengakui suatu pandangan mutlak tentang kenyataan. Anak banyak sekali disuguhi ajaran filosofis atau teologis dengan cara ceramah dan hafalan.
Ketiga, konservatisme pendidikan bertujuan melestarikan dan meneruskan pola-pola perilaku sosial yang mapan. Sekolah berfungsi untuk mendorong pemahaman serta penghargaan terhadap lembaga, tradisi dan proses budaya yang telah teruji oleh waktu; dan meneruskan informasi serta keterampilan sebagai bekal bagi anak untuk memperoleh keberhasilan dalam masyarakatnya. Pendidikan berpusat pada tradisi dan lembaga sosial yang ada; serta berdasarkan sistem budaya tertutup dengan menerima perubahan secara bertahap. Anak memerlukan tuntutan yang tegas dan pelajaran yang baik sebelum ia bisa menjadi warga negara yang bertanggung jawab. Pelajaran sekolah menekankan pada pelatihan dasar dengan keterampilan membaca, menulis dan berhitung. Umumnya guru bersedia menggunakan metode apapun yang paling efektif untuk memperlancar jalannya pembelajaran, tetapi tidak mau meninggalkan tata cara lama secara radikal.
Keempat, liberalisme pendidikan bertujuan mengangkat perilaku pribadi yang efektif. Sekolah bertujuan menyediakan informasi dan keterampilan yang diperlukan siswa supaya bisa belajar sendiri; dan mengajar siswa tentang bagaimana cara menyelesaikan masalah praktis secara pribadi maupun berkelompok dengan metode ilmiah-rasional. Individu adalah pribadi unik yang akan menemukan kepuasan terbesar jika mampu mengekspresikan diri ketika menanggapi kondisi yang terus berubah; individu dibebaskan mencapai kepentingannya sendiri. Anak didorong untuk menjelajahi problematika dan isu terkini secara kritis dan terbuka. Pendidikan ini menekankan masa depan anak berdasarkan penelitian eksperimental yang terbuka. Perubahan secara tidak langsung disambut dengan mengembangkan kemampuan individu untuk mengejar tujuan-tujuan pribadinya. Perbedaan-perbedaan individu lebih penting daripada persamaan-persamaannya.
Kelima, liberasionisme pendidikan bertujuan mendorong pembaruan atau perombakan sosial dengan cara memaksimalkan kebebasan individu di sekolah. Pendidikan ditujukan untuk secara utuh mewujudkan setiap potensi yang dimiliki anak sebagai manusia yang berbeda dari manusia lainnya. Sekolah berfungsi membantu siswa untuk mengenal dan menanggapi kebutuhan akan pembaruan sosial, dan menyediakan informasi serta keterampilan yang diperlukan oleh siswa supaya bisa belajar sendiri secara efektif. Pengetahuan merupakan alat yang dibutuhkan untuk melakukan perombakan sosial. Anak dipandang cenderung pada kebaikan, dan individualisme merupakan ungkapan keanggotaan sosial seorang individu. Metode pengajarannya menganggap kegiatan belajar sebagai dampak sampingan dari kegiatan lain yang lebih bermakna dan membebaskan siswa untuk mengarahkan kegiatan belajarnya sesuai dengan kurikulum yang telah ditentukan selaras dengan kondisi sosial. Sementara guru diposisikan sebagai model komitmen intelektual dan sosial.
Keenam, anarkisme pendidikan bertujuan melakukan perombakan segera dan besar secara humanis dengan cara menghapuskan kewajiban bersekolah. Seluruh sistem pendidikan formal dihapuskan dan digantikan dengan pola belajar yang ditentukan sendiri oleh setiap individu secara sukarela. Di sini juga tersedia akses bebas dan universal terhadap bahan dan kesempatan pendidikan. Ideologi pendidikan ini hendak mengembangkan sebuah masyarakat pendidikan yang sebisa mungkin menghapus sekolah formal dan kekangan institusional lain, serta menekankan masa depan pasca sejarah di mana manusia menjadi makhluk bermoral yang mengatur diri sendiri. Perbedaan individual dibangkitkan untuk melawan kebijakan yang baku. Oleh karenanya, pelajaran dan metode pendidikan diserahkan sepenuhnya kepada anak didik, sehingga guru bisa dihapus begitu saja.
Sampai di sini, kita bisa mengaca diri di muka cermin keenam ideologi pendidikan yang tumbuh di berbagai belahan dunia, khususnya Amerika Serikat yang menjadi latar kajian buku ini. Lebih dari itu, mungkin kita bisa “memilih” satu di antara ideologi pendidikan tersebut, tanpa harus dimulai dari starting point politik yang sedang memanas, untuk secara bertahap dan pasti merancang perubahan masa depan bangsa Indonesia tercinta demi kehidupan rakyat yang berkeadilan. Satu lagi yang perlu diperhatikan adalah kini telah tiba saatnya kita mengambil langkah dengan berani sekaligus hati-hati untuk secara sadar membenahi sistem pendidikan kita.[]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: