bersyukur dan bersabar

Resensi Buku

Oleh: Agung Prihantoro
Judul buku    : Islam ala Soekarno: Jejak Langkah Pemikiran Islam Liberal Indonesia
Penulis           : Maslahul Falah
Editor            : Hadi Purwanto
Penerbit        : Kreasi Wacana, Juli 2003
Halaman       : xviii + 164

Buku ini menarik karena barangkali satu-satunya yang secara khusus membahas pemikiran keagamaan (keislaman) Soekarno. Buku-buku lain, artikel-artikel, dan diskusi-diskusi tentangnya hampir senantiasa mengulas pemikiran kebangsaannya. Padahal, konon dunia Islam masa itu membanggakan kebesaran Soekarno sebagai pemimpin dan pembaru Islam. Sayangnya, pelacakan ini tidak dilakukan secara optimal dan juga tidak dibarengi dengan tata penulisan dan penyuntingan yang apik, sebagaimana akan saya tunjukkan dalam tulisan ini.
Membaca judul buku ini, saya berharap menemukan rumusan Islam liberal versi Si Bung. Yang terbayang dalam pikiran saya adalah, pertama-tama, latar belakang pemikiran keislaman Soekarno, kemudian konsep pembaruan liberal, dan kontribusinya bagi lanskap pemikiran Islam liberal di Indonesia. Saya pun berharap akan mendapati eksplorasi yang cukup lengkap tentang konsep pembaruan liberal Soekarno: bagaimana dia mendudukkan Al-Quran, hadis, Nabi Muhammad Saw. dan kesejarahannya, penafsiran dan praktik Islam pasca kenabian, dan hubungan antara Islam dan modernitas.
Namun, setelah membaca seluruh isi buku, ternyata harapan saya tidak sepenuhnya bergayung-sambut. Saya hanya menemukan latar belakang pemikiran keislaman tokoh kita ini, sekelumit pandangannya tentang Al-Quran, hadis, tafsir, fiqih, dan hubungan antara Islam dan negara (-bangsa). Yang cukup banyak dipaparkan penulisnya adalah latar belakang pemikiran Soekarno yang dipengaruhi oleh tokoh-tokoh Islam nasional.
Kehidupan keagamaan Soekarno bermula dari tradisi sinkretis keluarganya. Ayahnya, Raden Soekemi Sosrodiharjo, dikenal sebagai bangsawan pengikut gerakan teosofi, yang banyak beranggotakan kaum Muslim. Sementara itu, pengaruh ibunya yang seorang kasta Brahmana Bali di sini dipandang sebelah mata ([h. 13] apakah karena mainstream patriarkal dalam keluarganya, atau memang pengaruh ibunya tidak tampak dalam pemikiran keislaman Soekarno?). Selain ayahnya, ada empat orang yang sangat memengaruhi keislaman Soekarno, yaitu H.O.S. Cokroaminoto, K.H. Ahmad Dahlan, Ahmad Hassan, dan K.H. Mas Mansur.
Sebagai hasil pendidikan Islam mereka, Soekarno memandang Al-Quran, hadis, dan tafsir secara liberal. Menurutnya, Kitab Suci Al-Quran adalah sebuah hukum tertinggi umat Islam (h. 75), sedangkan Nabi Muhammad Saw. ma‘shûm ‘terlepas dari kesalahan’. Namun, umat Islam perlu memaksimalkan akal untuk menafsirkan Al-Quran dan hadis secara cerdas guna mengamalkan ajaran-ajaran keduanya sesuai dengan lokalitas dan temporalitas. Beragam penafsiran lokal dan temporer inilah yang kemudian menggiring Soekarno mengamini Islam “warna-warni”.
Ada dua pandangan liberal Soekarno tentang fiqih yang diangkat dalam buku ini, yakni hukumnya donor darah kepada non-Muslim dan tata cara menyucikan najis jilatan anjing. Sebagian ulama saat itu mengharamkan umat Islam yang mendonorkan darah mereka kepada non-Muslim, karena yang disebut terakhir ini adalah orang-orang musyrik yang memusuhi Islam. Akan tetapi, Soekarno melihat kasus ini dari perspektif kemanusiaan. Dia membolehkan donor darah kepada sesiapa pun demi keselamatan nyawa manusia.
Sementara itu, untuk membersihkan najis jilatan anjing, Putra Sang Fajar ini tidak mengharuskan penyucian dengan air sebanyak tujuh kali dan sekali di antaranya dengan debu. Menurutnya, Nabi memerintahkan demikian karena pada zaman dahulu belum ada sabun atau kreolin. Jika kaum Muslim awal sudah mengenal bahan-bahan pembersih, kata Soekarno, najis tersebut cukup disucikan dengan sabun atau kreolin. Dua pandangan Soekarno ini dapat dikatakan “baru”, tetapi tidak didasarkan pada ijtihad fiqih yang baku, sehingga dia tidak disebut sebagai seorang mujtahid ([pembaru] h. 126). Dia sekadar menginginkan Islam membawa manfaat bagi semua manusia dan mudah diamalkan pemeluknya.
Keinginan yang disebut terakhir ini mendorong Soekarno mengambil praktik Islam di Mesir, Palestina, India, Arab Saudi, dan, terutama, Turki sebagai referensi mutakhir tentang hubungan antara Islam dan negara (-bangsa, sebagai konsekuensi dari modernitas). Secara khusus, dia pernah menulis Apa Sebab Turki Memisah Agama dari Negara?, yang memicu polemik-ideologis panjang dengan Muhammad Natsir. Soekarno sangat mendukung gagasan genius Kemal Ataturk untuk mereformasi Turki dari “Negara Agama” jadi “Negara Netral Agama”. Walau demikian, Soekarno tidak sepenuhnya setuju dengan pemisahan Islam dari negara, karena Islam memunyai cita-cita ketatanegaraan. Akan tetapi, tidak disebutkan apa cita-cita ketatanegaraan Islam tersebut.
Soekarno menolak daulah islamiyah (negara Islam), “Islam dipisahkan dari negara, agar Islam menjadi merdeka, dan negara pun menjadi merdeka.” Pemisahan ini akan menjamin kehidupan yang harmonis antara Islam dan negara. Dengan kata lain, kesuburan—meminjam istilah Soekarno—suatu agama dan negara akan berjalan seiring, tanpa pemanfaatan satu sama lain tetapi saling membantu sesuai dengan tugasnya masing-masing. Idealnya, negara mengantarkan dan mamfasilitasi masyarakat untuk mengerjakan apa yang menjadi kehendak suci agama (h. 98).
Sampai di sini, Islam liberal versi Soekarno yang dipaparkan dalam buku ini tidaklah selengkap yang saya harapkan di awal. Saya menduga ada dua sebab mengapa demikian: pertama, Soekarno memang tidak memunyai pemikiran Islam liberal yang lengkap dan matang; atau kedua, penulis buku ini tidak meneliti—katakanlah sekadar mengais-ngais—sumber-sumber pemikiran Soekarno yang representatif, mengingat penulis tidak secara eksplisit menyebutkan sumber-sumber kajiannya dan memberikan batasan pada kajian tersebut. Bahkan, sejauh pembacaan saya, tak satu kata “liberal” pun—yang ditulis dalam sub-judulnya—disebut dalam isi buku ini.
Pandangan-pandangan Islam Soekarno juga tampak kurang jelas karena berbaur dengan pendapat-pendapat penulisnya di sana-sini, terutama di hampir semua awal bab dan sub-bab. Mungkin penulisnya hendak memberikan pengantar sebelum memaparkan pemikiran Soekarno, tetapi pengantar-pengantar itu terlalu banyak dan, dalam batas-batas tertentu, kurang relevan. Tata penulisan semacam ini perlu diperhatikan, termasuk bagaimana menyusun kalimat yang utuh dan paragraf sebagai sebuah kesatuan pikiran yang koheren dan mudah dipahami (misalnya, tidak terlalu panjang).
Pada akhirnya, orang yang paling bertanggung jawab atas kekurangan (selain kelebihannya) sebuah buku adalah penyunting. Maka, kekurangan-kekurangan penulis seharusnya dibenahi secara cermat oleh penyunting. Beberapa kekurangan yang dimaksud dalam buku ini, selain yang disebut di atas, adalah: (1) inkonsistensi penyebutan sumber referensi, sebagian disebutkan dalam body text dan sebagian lagi dalam catatan kaki; (2) ketidaktepatan ejaan, misalnya kata “pembaharuan” [KBBI: “pembaruan”]; (3) inkonsistensi transliterasi, misalnya Muhammad dan Muhammad; dan (4) inkonsistensi penomoran dan penulisan huruf besar dua sub-bab yang sejajar pada halaman 126 [1. Donor darah] dan 133 [a. Penyucian Najis karena Jilatan Anjing].
Memang, menulis dan menyunting buku itu mudah, tetapi menulis dan menyunting buku yang baik perlu kerja keras.[]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: