bersyukur dan bersabar

Resensi Buku

Oleh Agung Prihantoro
Judul        : Unlimited Potency of the Brain
Penulis        : Taufiq Pasiak
Penerbit        : Mizan, Bandung
Cetakan        : I, Maret 2009
Tebal        : xviii + 436 halaman

Hati (heart) adalah pusat pikiran manusia, sedangkan otak (brain) berperan mendinginkan tubuh, kata Aristoteles berabad-abad silam. Sekarang, para neurosaintis menertawakan perkataan filsuf Yunani itu, sebab mereka telah menemukan bahwa otak ternyata merupakan pusat segala aktivitas manusia.
Hasil riset-riset neurosains menunjukkan bahwa apa yang terjadi di otak sebagai pusat segala aktivitas berkorelasi dengan, dan bahkan berpengaruh pada perasaan, pikiran dan perilaku individual, sosial dan transendental manusia. Begitu pun sebaliknya, perasaan, harapan, pikiran dan perilaku manusia memengaruhi otak.
Artinya, neurosains (ilmu tentang otak)—dan juga genetika—sangat menjanjikan untuk menjelaskan secara mendasar fenomena psikologis, linguistik, spiritual, pedagogis, dan sosiologis. Amat mungkin pula neurosains kelak dapat menerangkan fenomena-fenomena manusiawi lainnya, berdasarkan struktur dan fungsi otak, serta perubahan di dalamnya. Sebagian rahasia otak manusia sudah berhasil diungkap, tetapi sebagian lainnya masih misterius. Buku ini memerikan rahasia-rahasia otak yang telah diungkap itu.
Kemarahan, misalnya, dapat didedahkan dengan mengamati amygdala sebagai bagian dari sistem limbik dalam otak (hlm. 92). Dalam kondisi normal, informasi yang diterima otak diteruskan oleh thalamus ke kulit otak untuk dipelajari. Namun, lantaran sebab tertentu, informasi tersebut “dirampok” oleh amygdala dan tidak sampai kulit otak. Inilah yang berlangsung di dalam otak ketika seseorang marah.
Sebagian orang lebih mudah marah, dan sebagian lainnya lebih tenang. Sebagian orang mengalami gangguan psikologis, sedangkan sebagian lainnya normal. Semua ini dikarenakan setiap orang mempunyai perbedaan kadar enzim, reseptor, neurotransmiter, dan semua zat kimia otak (hlm. 122). Maka, orang yang menderita suatu gangguan psikologis dapat disembuhkan dengan ditambahkan atau dikurangkan zat-zat tertentu pada otaknya.
Kebalikannya, harapan, keinginan, dan status sosial dapat mengubah struktur otak, dan perubahan struktur otak ini pada gilirannya mengubah psikologi dan perilaku manusia. Harapan, keinginan, dan status sosial yang tinggi terbukti meningkatkan kadar serotinin (zat kimia otak untuk rasa sedih dan senang, agresif dan acuh tak acuh). Peningkatan kadar serotinin ini kemudian mengubah persepsi diri, sikap, dan perilaku.
Dalam percobaan, seekor kera Afrika yang direkayasa jadi pemimpin mempunyai kadar serotinin yang tinggi; sementara tingkat serotinin kera-kera yang didapuk jadi anak buahnya rendah. Manakala status kepemimpinannya diganti, taraf serotininannya menurun, dan kadar serotinin kera-kera baru yang dijadikan pemimpin meningkat. Perubahan status sosial ini—dan tentu saja perubahan kadar serotinin—juga memicu perkelahian antarkera.
Percobaan pada kera tersebut membantu kita memahami mengapa calon-calon legislatif yang gagal menjadi anggota DPR menderita stres, dan mengapa mereka yang terpilih jadi anggota parlemen bergembira-ria dan bertindak lebih agresif.
Dalam bidang pendidikan, temuan-temuan neurosains mematahkan pandangan-pandangan lawas perihal otak (hlm. 61-63). Orang tua dengan otak tuanya dahulu dipandang tidak dapat belajar (learning) sebaik anak muda. Pandangan ini keliru karena otak yang dipakai secara terus-menerus sebenarnya mampu selalu belajar, tanpa mengenal usia. Sel-sel saraf baru dalam otak senantiasa tumbuh; sirkuit otak bakal membaik bila digunakan untuk belajar, dan bakal rusak jika tidak diaktifkan.
Thomas Alva Edison, Johann Wolfgang von Goethe, dan Victor Hugo membuahkan masterpiece mereka pada umur 70 dan 80-an tahun. George Bernard Shaw dan Pablo Picasso masih produktif berkarya pada usia 90-an tahun. David Ray Franklin di Tennesee, Amerika Serikat, belajar membaca saat berumur 99 tahun. Banyak lagi tokoh semacam ini, yang membuktikan bahwa kemampuan otak untuk belajar tetap berkembang, sekali lagi, selama otak dipakai secara terus-menerus.
Otak serupa mesin supercanggih yang dirancang untuk berubah, tandas neurosaintis Marian Diamond. Otak mempunyai neuroplastisitas, yakni kesanggupan untuk melakukan perubahan diri.
Menyangkut spiritualitas, otak menyimpan banyak sekali informasi. Informasi ini mengungkap beragam pengalaman mistik (hlm. 142-144). Newberg, setelah meneliti hubungan antara pengalaman mistik dan sistem thalamokortikal dan sistem limbik-batang otak, menyimpulkan bahwa pengalaman mistik beraneka, dari apa yang disebut pengalaman estetik sampai pengalaman penyatuan dengan Tuhan (union mystica, nirvana, fana).
Selama pengalaman estetik (rasa keindahan yang tak terlukiskan kala melihat sesuatu yang luar biasa) berlangsung—ini dialami oleh orang-orang seperti Lia Aminuddin—kerja otak memadat pada sistem thalamokortikal. Mereka berada dalam keadaan sadar sepenuhnya atas hal-hal di sekitar mereka.
Sementara itu, ketika para nabi atau mistikus sejati mengalami penyatuan dengan Tuhan, sistem limbik-batang otak mereka bekerja optimal dan sistem thalamokortikal mereka diam. Atensi mereka pada otak depan menguat, tetapi orientasi mereka pada diri sendiri hilang sama sekali. Mereka lepas dari diri fisik dan menyatu dengan Sang Kudus.
Zikir atau pelatihan emosional-spiritual yang berupa pengondisian akan segera memengaruhi saraf otonom, yang mengatur denyut jantung, pernapasan, nadi, kelenjar keringat, dan pupil mata. Syahdan, orang yang dikondisikan seperti ini jadi merasa dekat dengan Tuhan, menangis, dan merasa dirinya kecil tiada arti. Namun, sistem saraf otonom bekerja dalam tempo singkat, sehingga perasaan dekat dengan Tuhan itu bertahan sebentar saja. Efek pengondisian yang hanya menyentuh saraf otonom ini sama dengan efek obat penenang.
Zikir menurut Alqur’an sebetulnya merupakan kegiatan berpikir tingkat tinggi yang melampaui pikiran rasional dan kalkulatif. Zikir ini merasuk sampai cortex cerebri (kulit otak), dan dapat mengubah struktur otak secara positif.
Uraian dan juga tips-tips dalam buku ini sungguh mencerahkan. Otak sebagai pusat segala aktivitas harus dikenali oleh para psikolog, pendidik, agamawan, dan orangtua agar mereka dapat memperlakukan manusia dengan tepat.
Jika Anda pernah membaca Brain Management for Self Improvement (2007), buku ini dikembangkan lebih jauh dari buku tersebut oleh penulisnya yang dokter dan doktor dengan bahasa yang gampang dicerna.[]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: