bersyukur dan bersabar

Resensi Buku

Oleh                  : Agung Prihantoro
Judul                : Dasar-dasar Psikologi Kualitatif
Penulis            : Jonathan A. Smith et al.
Penerjemah    : M. Khozim
Penyunting     : Romdoni
Penerbit         : Nusa Media, Bandung
Cetakan          : I, Maret 2009
Tebal               : viii + 348 halaman

Salah satu orientasi baru dalam psikologi yang belakangan banyak diminati adalah psikologi kualitatif (qualitative psychology) sebagai “lawan” dari psikologi kuantitatif (quantitative psychology). Psikologi kualitatif mengkaji psyche (jiwa) manusia dengan metodologi penelitian kualitatif.
Orientasi baru ini, mengutip Lincoln dan Guba (Naturalistic Inquiry, 1985), sejatinya merupakan pergeseran paradigma dari positivistik ke pospositivistik. “Pospositivistik” disebut pula dengan istilah-istilah “naturalistik”, “etnografis”, “fenomenologis”, “subyektif”, “studi kasus”, “kualitatif”, “hermeneutik”, dan “humanistik”.
Buku anggitan Jonathan A. Smith dan kawan-kawan ini membicarakan paradigma baru psikologi terutama dalam wilayah ontologi dan epistemologi. Dalam wilayah ontologi, psikologi kualitatif mempermasalahkan objek kajiannya. Para pendukung psikologi kualitatif menyebut objek kajian mereka, bukan psyche, melainkan pengalaman (experience). Dalam wilayah epistemologi, psikologi kualitatif menyoal metode yang tepat untuk mempelajari pengalaman manusia.
Sejarah psikologi menunjukkan bahwa perkembangan disiplin ilmu ini mengarah pada paradigma kualitatif. Kemunculan psikologi kualitatif ditandai dengan penolakan terhadap lima konsep pengalaman dalam behaviorisme dan kognitivisme (hlm. 11) pada pertengahan abad ke-19. Lima konsep ini adalah cara pandang orang pertama, pendekatan perseptif, anti-idiografi, nirmakna, dan bingkai stimulus-respons.
Cara pandang orang pertama (the first-person perspective, pelaku) ditampik karena tidak objektif. Objektivitas diperoleh hanya bila pengalaman manusia diteliti dengan cara pandang orang ketiga (pengamat).
Pendekatan perseptif (the perceptual approach) tidak menyertakan sudut pandang pengamat dan, akibatnya, tidak dapat mendaras hubungan antara kesadaran manusia dan objek dari kesadaran itu.
Behaviorisme dan kognitivisme mengakui perbedaan individu, tetapi menganggap studi tentang keunikan manusia (ideografi) tidak ilmiah.
Makna (meaning) diabaikan dalam behaviorisme dan kognitivisme. Behaviorisme dan kognitivisme menempatkan pengalaman sebagai respons manusiawi (perilaku verbal) yang dijelaskan dengan merunut sebab-sebabnya. Padahal, suatu pengalaman memiliki makna tertentu bagi pelakunya.
Behaviorisme dan kognitivisme menilik hubungan sosial (social relatedness) hanya dalam bingkai stimulus-respons. Manusia dinilai tidak mempunyai sifat sosial, sehingga behaviorisme dan kognitivisme tak mengenal konstruksi realitas sosial.
Jadi, pengalaman dalam pengertian baru ialah pengalaman yang dilihat dari sudut pandang orang ketiga, bermakna bagi pelakunya, dan bersifat sosial. Psikologi baru ini bercirikan idiografik dan mengakui hubungan antara kesadaran manusia dan objeknya.
Ciri-ciri tersebut selaras dengan lima aksioma dalam paradigma pospositivistik (Lincoln dan Guba, 1985: 37). Pertama, realitas itu majemuk, dikontruksi, dan holistik. Kedua, pengamat dan objek amatan berinteraksi dan tak terpisahkan. Ketiga, hipotesis-hipotesis kerjanya terikat waktu dan konteks. Keempat, seluruh entitas berada dalam keadaan saling membentuk secara simultan sehingga sebab mustahil dibedakan dari akibat. Kelima, penelitian tidak bebas nilai.
Metodologi-metodologi penelitian kualitatif yang dipaparkan secara cukup mendalam oleh Smith et al. adalah fenomenologi, grounded theory, analisis percakapan, analisis wacana, focus group, dan cooperative inquiry. Metodologi-metodologi ini membawa konsekuensi pusparagam pandangan dalam psikologi kualitatif. Penting untuk dicatat, sekali lagi, bahwa tiada suara tunggal dalam psikologi kualitatif.
Paparan ini menawarkan penjelasan metodologis kepada orang-orang yang menekuni psikologi dan membekali mereka yang akan melakukan penelitian kualitatif.
Satu lagi yang menarik untuk dicatat adalah edisi bahasa Indonesia dari buku yang aslinya berjudul Qualitative Psychology: A Practical Guide to Research Methods ini juga dipublikasikan oleh penerbit lain dengan judul yang mirip. Andai penerjemahan dan penyuntingannya dikerjakan dengan lebih serius, buku ini tentu amat berguna sebagai saksi atas pergeseran paradigma dalam disiplin psikologi dan sebagai pedoman penelitian posposivitistik.[]

(Pernah dimuat di koran Seputar Indonesia Minggu 24 Mei 2009)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: