bersyukur dan bersabar

Resensi Buku

Oleh Agung Prihantoro
Judul                : Room to Read
Penulis             : John Wood
Penerjemah    : Widi Nugroho
Penyunting     : Hermawan Aksan dan Salman Faridi
Penerbit          : Bentang, Yogyakarta
Cetakan           : I, April 2009
Tebal                : x + 385 halaman

The sleep of reason produces monsters.
—Francisco José de Goya y Lucientes (1746-1828).

Apa jadinya kalau akal budi (reason) manusia tidur lelap? Akan tercipta monster-monster, jawab Goya, pelukis kondang asal Spanyol. Monster-monster itu adalah orang-orang yang akal budinya terlelap sehingga mereka gemar berbuat onar di muka bumi.
Entah apakah John Wood, penulis buku Room to Read ini, pernah membaca ungkapan Goya tersebut atau tidak, tetapi keberhasilan Wood membangun gedung-gedung sekolah dan pustakaloka di lereng Gunung Himalaya, Nepal, niscaya mengejawantahkan kata-kata pelukis itu.
Salah sebuah cara yang efektif untuk membangkitkan akal budi manusia dari tidurnya adalah pendidikan. Pendidikan formal, informal dan nonformal yang berkualitas, dari tingkat usia dini sampai pascadoktoral, senantiasa didukung dengan perpustakaan yang bagus. Pendidikan dan perpustakaan menjadi dua hal yang tak terpisahkan, dan Wood memilih cara ini untuk mencegah kelahiran monster-monster.
Buku ini mengisahkan pencarian eksistensi Wood yang unik dan perjuangannya yang tak kenal lelah untuk menggalang dana guna membangun sekolah-sekolah dan perpustakaan-perpustakaan awalnya di Nepal, kemudian di Vietnam dan India.
Pada 1998, Wood menduduki jabatan eksekutif di perusahaan raksasa Microsoft cabang Sydney, Australia. Sebagai seorang eksekutif, sudah pasti dia sangat sibuk dengan segunung pekerjaan. Di sisi lain, dia telah memiliki kehidupan yang mapan pada usia yang relatif muda, 35 tahun. Namun, kesibukan dan kemapanan ini tak membuatnya menemukan eksistensi dirinya. Dia menderita penyakit modernitas, yang juga disandang banyak manusia zaman sekarang.
Wood tak punya waktu untuk memanusiakan dirinya. Mengabdi pada perusahaan kapitalis yang licik menjadikan cakrawala pandangnya sempit. Dia butuh melihat warna-warni jagat lain, melakukan sesuatu yang berbeda, dan bahkan menempuh jalan hidup yang sama sekali anyar.
Oleh karenanya, Wood mengambil cuti 21 hari, bukan ke Bali yang indah seperti keinginan pacarnya, melainkan ke pedalaman Himalaya yang pekat. Setiba di kaki gunung tertinggi sedunia ini, dia bingung sebab di sini tiada listrik tiada internet. Namun, ketika seorang pejabat setempat mengajaknya mengunjungi sebuah Sekolah Dasar miskin di Desa Bahundanda, Nepal, yang tak punya perpustakaan, sisi manusiawi Wood mulai tumbuh. Pengalamannya bersama siswa-siswi yang tak memiliki buku itu—berkebalikan dengan masa kecil Wood yang dilingkupi banyak buku—kelak benar-benar mengubah jalan hidupnya.
Usai cuti, dia mulai meminta teman-temannya menyumbang buku-buku untuk SD-SD melarat di daerah terpencil itu. Tak ternyana, teman-temannya merespons permintaannya dengan positif dan cepat. Tak lama berselang, datanglah kiriman paket-paket buku ke rumah orangtua Wood di Colorado sebagai pos pengumpulan buku. Wood dan ayahnya segera membawa banyak buku itu ke Nepal.
Filantropinya berkembang dengan cukup pesat. Sementara itu, kejenuhannya di perusahaan milik Bill Gate memuncak. Semua ini membuat Wood mengambil keputusan penting sepanjang hayatnya: keluar dari Microsoft pada akhir 1999 dan membentuk organisasi nirlaba untuk mendirikan sekolah-sekolah dan perpustakaan-perpustakaan di Nepal.
Nama organisasinya semula Books for Nepal, tetapi kemudian diganti jadi Room to Read. Tanpa modal pengalaman dalam aktivitas-aktivitas filantropi internasional dan berbekal tekad baja semata, dia dengan susah payah mengumpulkan dana di bawah panji organisasinya itu untuk merealisasikan mimpinya. Teramat banyak suka duka yang dia alami dalam perjuangan panjangnya ini.
Pada Agustus 2005, Room to Read telah mempekerjakan 50 staf yang bergaji memadai dan 1.000 relawan pencari dana. Organisasi ini pun berhasil membangun 2.300 gedung sekolah dan perpustakaan, dan mendonasikan 1 juta buku ke perpustakaan-perpustakaan di Nepal, Vietnam, dan India (362). Sebuah prestasi hebat yang diraih dalam tempo singkat! Alhasil, Wood diganjar dengan TIME Asia’s Heroes Award 2004 dan Academy for Educational Development “Breakthrough Ideas in Education” Award 2007.
Sejauh penuturan Wood dalam buku ini, Room to Read adalah organisasi non-pemerintah yang tak menjadi pelayan kapitalisme, yang dikritik dengan pedas oleh James Petras dan Henry Veltmeyer (Globalization Unmasked: Imperialism in the 21st Century, 2001). Ornop budak kapitalisme, menurut Petras dan Veltmeyer, tak lebih dari broker perusahaan-perusahaan kapitalis dan sekadar penjaja kemiskinan Dunia Ketiga.
Sampai di sini, membaca buku ini mengingatkan kita pada kiprah Butet Manurung untuk mendidik anak-anak suku pedalaman di Indonesia (Sokola Rimba, 2008). Namun, berbeda dengan Butet yang berupaya membangun sekolah-sekolah sekaligus merumuskan model pembelajaran yang cocok untuk anak-anak pedalaman, Wood terfokus pada pendirian gedung-gedung sekolah dan pustakaloka.
Dengan perkataan lain, Wood telah merampungkan satu pekerjaan, yang tentu patut diapresiasi, untuk mendidik akal budi manusia. Namun, dia masih menyisakan pekerjaan lain, yakni mencari model pembelajaran yang tepat berdasarkan teori-teori pendidikan terbaru dan karakteristik sosiokultural peserta didik.
Kesudahannya, Wood boleh berbangga bahwa bukunya telah diterjemahkan ke dalam 16 bahasa. Namun, dia bakal kecewa karena versi Indonesianya terbata-bata, terlalu kental dengan struktur dan gaya bahasa Inggris. Coba perhatikan terjemahan berikut: “Penyesuaian lainnya dilakukan, tetapi lembar perhitungan di komputer menunjukkan bahwa saya bisa menginvestasikan empat tahun kehidupan saya ke karya amal saya tanpa mengambil gaji” (hlm. 95).[]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: