bersyukur dan bersabar

Resensi Buku

Oleh Agung Prihantoro

Judul Buku    : Islam Dan Pluralisme: Akhlak Quran Menyikapi Perbedaan
Penulis           : Jalaluddin Rakhmat
Penyunting    : As’adi Abdul Ghani
Penerbit        : Serambi, Jakarta
Cetakan         : I, September 2006
Tebal              : 292 halaman

Ada yang unik dari ceramah-ceramah Ramadhan kemarin di udik saya. Seorang penceramah menuturkan bahwa Thomas Alva Edison bisa saja masuk surga pasalnya dia berhasil menemukan lampu listrik, yang amat bermanfaat bagi kehidupan manusia. Menurutnya, amal saleh Edison yang Kristen ini dapat mengantarkannya pada keselamatan akhirat kelak. Tak pelak, pendapat pluralis ini memantik kegundahan imam masjid dan para jemaahnya.
Itulah secuil dari persoalan besar manusia sepanjang masa: pluralisme. Sebenarnya, persoalan pluralisme tak berkutat pada ranah agama semata, tetapi juga pada wilayah etnis, ras, bahasa, sejarah, politik, ekonomi, kelas sosial, kebangsaan, dan bahkan peradaban. Sudah teramat banyak studi dalam pelbagai disiplin ilmu tentang seberinda pluralitas ini, baik yang bercorak pesimistik maupun optimistik. Harold R. Isaacs dan Samuel P. Huntington, untuk sekadar menyebut beberapa, dapat dikategorikan sebagai kubu pesimis, sementara Karl May dalam sastra petualangan dan Karen Armstrong mewakili kubu optimis.
Sejarah panjang konflik antarkelompok yang seolah tiada pernah berkesudahan memang mengguratkan pesimisme dalam menjenaki masa depan kehidupan dunia. Namun, pesimisme ini hanya akan membuahkan sikap kontraproduktif yang malah memperkeruh suasana, sehingga kubu optimis berkeras melakukan kajian-kajian tekstual dan empiris yang penuh asa. Perihal agama, pluralisme—sistem nilai yang memandang kemajemukan secara positif-optimis—bisa ditumbuhkan dari fakta pluralitas itu sendiri dan juga dari ayat-ayat kitab suci (Nurcholish Madjid, 1992: lxxv).
Buku paling anyar Kang Jalal ini secara optimis menegaskan keniscayaan pluralisme agama itu dengan bukti ayat-ayat Alquran. Ada tiga pertanyaan pokok yang akan dijawab dalam kitab mungil ini: Mengapa Tuhan menciptakan bermacam-macam agama? Apakah hanya agama Islam yang diterima oleh Allah? Apakah orang-orang non-Muslim akan menerima pahala dari amal saleh mereka, dan apakah mereka akan selamat di akhirat? Ini sejatinya bukanlah pertanyaan-pertanyaan baru dalam khazanah Islam, tetapi di Indonesia jadi terasa baru dan relevan mengingat terbitnya fatwa MUI yang kontroversial mengenai pluralisme belum lama berselang dan juga mengingat geliat gerakan fundamentalis belakangan ini.
Jawaban atas pertanyaan pertama sudah teramat gamblang (hh. 33-4) berdasarkan ayat muhkamat surah al-Mâ’idah 48. Pertama, agama-agama mempunyai syariat dan akidah yang berbeda, dan karenanya pluralisme tak berarti semua agama itu sama, lamun perbedaan adalah fitrah. Kedua, Tuhan tidak kasdu seluruh manusia menganut agama yang tunggal, dan keragaman agama ini dimaksudkan untuk menguji seberapa banyak kita dapat memberikan kontribusi kebaikan kepada kehidupan manusia. Ketiga, semua agama kembali pada Allah, dan tugas dan wewenang Allah-lah untuk menyelesaikan perbedaan di antara agama-agama tersebut. Manusia tak berhak mengambil alih masuliah-Nya dengan cara apa pun, termasuk dengan menerbitkan fatwa.
Ihwal pertanyaan kedua, Jalaluddin Rakhmat, sebagaimana para mufasir inklusif lainnya, mencurainya dengan sekali lagi mendedahkan secara argumentatif makna dîn dan islâm dalam Alquran. Dîn dan islâm (dari akar kata salâm, silm, aslama) mengandung makna asal dan pokok yang sama, yakni berserah diri, pasrah, taat, tunduk, patuh, seperti dalam surah Âlî ‘Imrân 83 dan 85; al-Taubah 33; al-Fath 28; al-Shaff 9. Alhasil, Islam yang diterima Allah (Q.S. Âlî ‘Imrân 83 dan 85) adalah agama—bisa jadi Islam, Kristen, Hindu, Buddha, Yahudi—yang mengajarkan kepasrahan total kepada Kebenaran, Tuhan.
Lantas, apakah orang-orang non-Muslim akan menerima pahala dari amal saleh mereka, dan apakah mereka akan selamat di akhirat? Kang Jalal—yang diapkir sesat bersama Abdurrahman Wahid, Dawam Rahardjo, Nurcholish Madjid, Quraish Shihab, oleh Hartono Ahmad Jaiz (Aliran dan Paham Sesat di Indonesia, 2002)—secara tandas membenarkannya seraya menyitir surah al-Baqarah 62 yang kemudian diulang dengan kalimat yang agak berbeda dalam surah al-Mâ’idah 69 dan al-Hajj 17, Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani, dan orang-orang Shabiin, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir, dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tiada kekhawatiran bagi mereka, dan tiada (pula) mereka bersedih hati.
Ayat-ayat tersebut—yang memesona Dr. Jeffrey Lang (1994), mualaf yang merupakan guru besar matematika di Universitas Kansas, AS—menandaskan, tulis Kang Jalal (hh. 23-9) dengan menukil tafsir Sayyid Husseyn Fadhlullah dan Sayyid Rasyîd Ridhâ, bahwa semua golongan agama akan selamat sejauh mereka beriman pada Allah dan hari akhir dan beramal saleh. Karenanya, para pemburu kebenaran seperti René Descartes, Kahlil Gibran dan Georgr Jordac tak bisa disebut kafir, mereka adalah Muslim secara fitrah (hh. 37 dan 51). Dan, ayat-ayat Alquran itu jelas mendukung pluralisme.
Katib kitab ini juga menyanggah para mufasir eksklusif yang mengatakan bahwa ayat-ayat tersebut bertentangan dan dihapus (mansûkh) dengan surah Âlî ‘Imrân 85. Islam dalam surah yang disebut terakhir ini bermakna “umum yang meliputi semua risalah langit, kepasrahan total, bukan Islam dalam arti agama yang dibawa Nabi Muhammad saw.”. Sanggahan ini disangga oleh surah al-‘Ankabût 46 dan 61 dan surah al-Zukhruf 87.
Tafsir pluralis Alquran ini sekali lagi membuktikan bahwa Islam bersikap sangat apresiatif dan toleran terhadap agama-agama lain. Jua perlu dicatat bahwa tafsir ini bergayung sambut dengan, misalnya, Konsili Vatikan Kedua (1962-65) yang berpandangan positif terhadap agama-agama di luar Katolik, termasuk Islam (Maurice Bucaille, 1984).
Arkian, bagaimana menghubungkan tafsir pluralis ini dengan konflik antarumat beragama, semisal konflik Poso? Inilah pertanyaan selanjutnya yang harus disahuti oleh para mufasir inklusif-optimis. Setelah membaca dan menafsirkan teks Kitab Suci, kini mereka mesti membaca dan mengurai teks empiris di lapangan, demi meyakinkan kubu eksklusif-pesimis dan turut menciptakan kehidupan yang lebih kondusif.
Terakhir, perlu dimafhumi bahwa buku ini merupakan kumpulan 12 tulisan yang dibagi jadi tiga bagian. Tantangan utama yang dihadapi editor dalam menyunting buku jenis ini adalah memilih tulisan-tulisan yang memiliki kesamaan tema. Editor kitab ini bisa dibilang gagal menjawab tantangan tersebut sebab tema tulisan-tulisan pada Bagian II dan III “Mencari Autentitas Iman” dan “Menghadang Kemungkaran Sosial” kurang karib dengan ide awal dan judul bukunya. Kegagalan ini sebetulnya bisa ditutupi dengan kata pengantar yang genap dari penulisnya, tetapi di sini pembaca tak akan menemukan pengantar semacam itu.
Sayangnya pula, sumber-sumber tulisan tersebut tidak disebutkan, padahal sebagian (atau malah semua?) tulisan dalam buku ini pernah dipublikasikan. Misalnya, Bab 3 “Menyikapi Perbedaan: Telaah Ulang Skisme dalam Islam” dan Bab 5 “Menjadi Manusia: Konsep-konsep Antropologis dalam Alquran” sudah diterbitkan dalam Kontekstualisasi Doktrin Islam dalam Sejarah (Budhy Munawar-Rachman [ed.], 1994), dan Bab 4 “Mengenal Allah: Tuhan yang Disaksikan, Bukan Tuhan yang Didefinisikan” dalam jurnal Paramadina (Volume 1 Nomor 1 Juli-Desember 1998). Pun, pembaca bakal sedikit terganggu oleh banyaknya salah ketik dan tiadanya indeks.[]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: